ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

LUKA DI TELAPAK IBU PERTIWI

Avatar photo

 

Separuh penjaga perut bangsa ini hidup pas-pasan di atas tanah yang lebih kecil dari halaman rumah orang kota. Kita minta mereka menjaga kedaulatan pangan, tetapi mereka tidak berdaulat atas tanahnya sendiri.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

 

Jadi salahkah Ibu Pertiwi? Tidak. Salahkah anak bangsa?

Kita semua salah. Kita terlalu lama memuliakan petani di atas panggung pidato, tetapi membiarkannya kelaparan di pematang. Kita bangga swasembada di atas kertas, tetapi impor beras diam-diam. Kita bangga foto pejabat di sawah, tetapi setelah foto, pejabat pulang ke hotel ber-AC, petani kembali ke gubuk beratap seng bocor.

 

24 September ini mari kita menunduk dan merenung: Bagaimana perut anak bangsa, sudahkah cukup diisi dengan nasi? Sudahkah kebutuhan petani kita dicukupi?

 

*LALU APA JALAN KELUARNYA?*

 

1. Bereskan Tanahnya Dulu. Reforma agraria sejati. Beri kepastian sertifikat untuk petani gurem di Bijeli, Kuanfatu, Amanuban.

 

2. Pupuk Harus Sampai di Tangan. Pangkas birokrasi Kartu Tani. Kembalikan kios pupuk desa yang diawasi BUMDes dan tokoh adat. Bangun pupuk organik dari kotoran ternak.

 

3. Air Adalah Darah. NTT butuh ribuan embung kecil, sumur bor tenaga surya, dan irigasi tetes, bukan hanya bendungan raksasa hanya sebatas nama dan hiasan belaka tanpa manfaat untuk petani

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp HarkatIndonesia.Com

+ Gabung